Aku tahu senja itu bukan milik kami, dan aku belajar darinya untuk menciptakan senjaku sendiri.
--------------------
“Kau tahu, aku sedang berusaha lari darimu.”
“Maksudmu?”
“Kau pasti paham apa yang aku maksudkan,” aku menatapnya dengan senyuman yang khas, membiarkan lesung terbentuk di kedua pipiku.
Matanya yang hitam pekat menatapku penuh tanya. Dia meletakkan tangannya di atas telapak tanganku dan menggenggamnya. “Kalau aku menggenggam tanganmu seperti ini apa kau masih bisa lari?”
Aku membalas tatapan matanya, “Aku sangat rindu padamu,”
“Lalu mengapa dulu kau menyetujui hal itu?” ujarnya seraya menarik tubuhku mendekat. Aku sedikit bergelung di dadanya seperti anak kucing yang menemukan kembali tempatnya. “Seharusnya kau abaikan saja gertakan ayahku!”
“Memangnya kau tidak rindu padaku?”
“Tentu saja aku rindu padamu. Setiap pagi rasanya aku ingin selalu memelukmu, tapi begitu aku terbangun ternyata kau sudah pergi. Dan setiap kau pulang malah aku yang tak ada.”
“Sejak dulu memang sudah seperti itu kan? Bahkan sebelum kita saling mengenal.”
“Maksudmu?”
“Kamu masih ingat kapan kita bertemu?” aku memainkan garis tangannya sambil memandang gumpalan awan di hadapanku.
“7 desember 2002, kalau tidak salah itu hari jumat,” kemudian dia menunjuk ke arah langit. “Dan seperti hari ini juga, kita bertemu saat senja.”
Aku menghirup udara yang sesak, mencari sedikit kedamaian yang tak tampak. Aku hendak bersembunyi di saat malam dan menanti pagi datang. Aku berusaha mencari jawaban akan segala pertanyaan dan ternyata tidak aku temukan.
“Sejak saat itu pula aku menyukainya.”
“Siapa?”
“Apa?”
“Yang kau suka?”
Aku menyadari pertanyannya, “Tentu saja senja. Memangnya kau pikir apa?”
“Aku pikir kau suka padaku,”
Aku tertawa lepas mendengar kata-katanya, “Kau sungguh percaya diri, ya!”
Tiba-tiba dia mendaratkan ciuman tepat di pipi kiriku, “Aku suka lesung pipimu…” kemudian dikecupnya singkat mata kananku, “… dan matamu saat tertawa,”
Aku menatap mata yang berbinar dihadapanku ini, “Benarkah?”
“Tentu saja,” kemudian dia memelukku dengan erat. “Dan aku sangat berterima kasih pada senja karena telah mempertemukan kita.”
--------------------
Kupandangi ponselku yang sedari tadi tidak henti-hentinya berbunyi. Aku tau dia berusaha menghubungi tapi aku enggan menyahuti. Aku kembali menekuni pekerjaanku, berusaha lari dari segala pikiran yang membelenggu.
“Kamu berubah!” ujarnya waktu itu.
Pikiranku kembali ke pertemuan terakhir kami. Saat aku hendak bersembunyi lagi, ternyata dia sudah menanti. Dua bulan lamanya kami tak bersua dan tidak ada yang berubah darinya. Dia masih tetap sama, menyilaukan bagai permata.
Senja datang lagi kala itu, kembali mempertemukan kami. Kali ini dalam nuansa yang sedikit sunyi. Tak ada suara burung bernyanyi dan tidak ada lagi senandung di hati. Tiba-tiba yang bisa kurasakan hanyalah sakit di hati.
“Kenapa kamu pergi? Jelaskan padaku?” Kedua tangannya mengangkat wajahku hingga menatap matanya. “Kamu jatuh cinta lagi? hatimu telah terbagi?”
Aku hanya bisa diam mendengar pertanyaannya.
“Tolong jawab pertanyaanku!” aku melihat bola matanya yang mulai berkaca-kaca. Kini dia tampak tegang, tak lagi tenang.
“Aku mencintaimu,” aku langsung mendekap erat tubuhnya. “Sangat mencintaimu!”
Aku bisa merasakan helaan napasnya, kelegaan yang tercipta hanya oleh sebuah kalimat cinta. Dia balik mendekapku erat, lebih erat seakan kami akan selalu terikat.
“Kalau begitu tolong jelaskan padaku kenapa kamu pergi meninggalkan aku sendiri? Kenapa kamu selalu berusaha menjauhi aku? Kenapa kau lakukan itu jika kau mencintaiku?”
“Aku mencintaimu!”
“Aku juga mencintaimu, teramat sangat! Melebihi segala apa pun di dunia ini!”
Aku berusaha melepaskan pelukannya dan kembali menatap matanya, “Inilah kesalahanku!” aku menangkap kebingungan yang terpancar jelas dari sana.
“Kesalahankulah yang membiarkan kau mencintaiku, hingga akhirnya aku jatuh cinta padamu. Mencintaimu dengan segenap hatiku!”
“Tidak ada yang salah dengan cinta kita? Aku tulus mencintaimu!” nada suaranya meninggi. “Tidak ada yang salah!”
“Begitu juga aku!” suaraku mulai bergetar. Aku menggeleng pelan saat kembali menatap wajahnya, “Dan cinta kita tidak salah!”
“Lalu siapa yang salah?” dia berteriak sekuat tenaga, berjalan mundur menjauhiku.
“Akulah yang salah!” aku balas berteriak. “Kita salah!”
Dia menjambak rambutnya kuat-kuat, frustasi. Aku tahu dia mengerti, tapi dia hanya menganggap kata-kataku seakan tak ada arti. Kemudian dia bangun lagi dan berjalan mendekati. Kedua tangannya mengepal keras dan bisikannya terdengar tegas.
“Kita tidak pernah salah!”
Dia memang keras seperti batu dan sayangnya aku juga begitu. Aku memejamkan mataku sejenak, berusaha bersikap bijak.
“Kita salah! Aku salah dan kau juga!” aku berbisik pelan dihadapannya. “Cinta kita ini tidak punya masa depan!”
“Ya, kita punya. Selama 7 tahun ini kita sudah bersama, dan, lihat, kita bisa menjalaninya!”
“Ya, kau benar! Sudah 7 tahun kita bersama dan tidak ada yang berubah! Kita hanya berjalan di tempat,” kali ini aku yang berjalan mundur menjauhinya. “Lihat kita sekarang! Tidak ada yang berani melangkah ke depan. Baik kau maupun aku, tidak ada yang berani maju!”
“Aku… “
“Aku siap menanggung semua konsekuensinya,” potongku cepat sambil mengeluarkan semua unek-unek yang sudah menjamur di kepala. “Tapi KAU… kau yang terlalu takut untuk mengambil resiko! Kau takut akan orang tuamu. Kau terlalu takut mendengar perkataan orang-orang akan hidupmu. Kau hidup denganku, bukan dengan mereka! Kau mencintaiku, bukan orang-orang itu! Peduli setan dengan perkataan orang!”
Aku menghela napas panjang. Kini dia memalingkan wajah, menatap senja yang tak lagi indah. Aku melihat ketakutan di sana, bersaing keras dengan keinginan yang tegas. Wajahnya kini bersanding dengan malam yang hanya dihiasi cahaya temaram.
“Akuilah kalau kita sama-sama keras, kau punya prinsip dan begitu juga aku!” kali ini aku memandangnya dengan sorot mata tajam. “Aku hanya ingin masa depan yang jelas! Jika salah satu dari kita tidak ada yang mau mengalah, aku rasa lebih baik kita berpisah!”
--------------------
Senja membawa terang pulang, menghantarkan malam datang. Kini aku tak lagi menyukainya, karena senja selalu membawa kenangan akan dia. Kenangan akan cinta yang takkan mungkin bersama.
Aku pernah membayangkan mempunyai keluarga mungil yang bahagia. Hidup damai dan sejahtera. Tapi kini apa yang ku punya? Hanya seonggok harapan sia-sia yang takkan pernah menjadi nyata.
Senja memang telah mempertemukan aku dengannya, yang kupikir dengan dialah aku akan hidup bahagia, tapi ternyata aku salah menduga. Senja kala itu tidak membawa bahagia, senja itu hanya membawa sebuah cerita. Senja itu juga telah membawa cinta, yang salah, yang menjerumuskan aku ke dalam lubang penyesalan. Lubang yang sangat dalam dan kelam, yang telah membuat duniaku suram.
Aku tak lagi menyukai senja, tapi tak bisa kupungkiri aku masih mencintai dia. Dia yang masih tetap sama seperti saat pertama kali aku melihatnya. Dia yang kini sudah menjelma menjadi seseorang yang dipanggil Papa.
“Apa kabar?”
Kini senja itu datang lagi, kembali mempertemukan kami. Tapi kali ini dia tidak sendiri, dia datang bersama seorang putri yang tengah berlari bagaikan bidadari. Putri yang memandangku berseri-seri, indah seperti pelangi yang menghiasi senja kali ini.
“Baik,”
“Sudah lama kita tidak bertemu.”
“Ya.”
Dia memandang mataku, seperti yang biasa dia lakukan dulu, seakan bisa membaca kedalamnya.
“Aku rindu padamu.” ucapnya pelan bahkan nyaris seperti bisikan. “Aku rindu dirimu yang dulu, yang selalu ceria dan bersemangat. Kau yang kuat dan tidak akan menyerah. Kau yang tidak akan pernah kalah sekalipun kau sangat lelah.”
Aku menghela napas mendengar perkatannya. Kualihkan pandangan hingga menatap senja, menyembunyikan segala luka dan memendam segala rasa.
“Lihatlah matamu! Kemana sinarnya yang dulu? Bukan mata hitam dan cekung itu yang membuat aku jatuh cinta padamu. Dan kemana larinya lesung pipimu? Kini aku bisa melihat dengan jelas tulang rahangmu. Apa yang terjadi pada dirimu?”
Angin membawa semua kata-katanya terbang, jauh tinggi menuju awang-awang. Tiba-tiba semuanya berubah buram. Panas dan basah menjalari wajahku yang muram. Seakan tak tahu malu, aku mengeluarkan raungan pilu. Dia hanya terdiam sambil menepuk pelan pundakku, membiarkan air mata mengalir seiring dengan senja yang berlalu.
Aku menyesali segalanya. Aku menyesali hidupku, cintaku dan juga pilihanku. Aku menyesali diriku yang tidak bisa lepas dari dirinya, yang terus menerus mendamba dan mengharapkan cinta. Aku menyesali kebodohanku, yang membiarkan aku terpuruk dalam bayang masa lalu. Dan aku teramat menyesali senja kala itu, senja dimana pertama kali kami bertemu.
Tiba-tiba sebuah tangan kecil bergerak menyusuri wajahku. Mengangkat aku dari genangan pilu.
“Papa, kenapa teman papa menangis?” si kecil itu berbalik sebentar menatap Papanya. Suaranya bergetar pelan seakan mengerti apa yang kurasakan.
“Dia sedang sedih, Sayang” dielusnya rambut gadis kecil di hadapanku ini.
Kemudian gadis kecil itu memandang mataku, mata yang sama seperti milik lelaki itu. Mata yang tanpa dosa, yang tengah memandangku dengan tatapan penuh tanya. Tiba-tiba saja dia tersenyum senang, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang jarang.
Kini dia mulai sibuk merogoh isi tasnya dan mengeluarkan secarik kain berwarna merah muda. “Om, sini Senja elapin air matanya! Om jangan sedih lagi ya, om harus seneng dong. Kalo om sedih, nanti Senja jadi ikutan sedih.”
--------------------
-Senja itu tidak pasti. Lebih baik memilih Malam atau Pagi-
-Desember 2009-
2 comments:
Sumpah ket, gue lupa cerpen lo ini cerita ttg apa, pas gue baca endingnya ngetwist gitu. haha.. Ayo kita nulis lagi! :D
ahahahha, ada yg kurang greget ituh. mau gw benerin tapi males bet bet :p ayook kita nulis lagi, jangan sia-siakan ilmu dari Pak Adek tercinta :D posting Fajar elo dong~
Post a Comment