Thursday, 11 August 2011

Seleksi Alam

Seleksi Alam.

Pasti semua orang tauk maksudnya itu. Saya juga tauk, kalian semua pasti tauk.

Tapi sampai saat ini saya belom punya kata-kata yang pas buat mengungkapkan arti kata itu. Mungkin lebih tepatnya belom bisa merangkai kata-kata yang tepat buat menggambarkan itu.

Kalo kata om Rudi Soedjarwo, “Alam akan membentuk team yang cocok dengan sendirinya”

Berarti bisa dibilang seleksi alam adalah prosesnya. Proses yang membantu alam menemukan penghuninya, komunitasnya.

Sampai di usia saya yang baru saja genap 21 tahun ini, ternyata banyak sudah seleksi alam yang saya alami.

Seperti diawal masa kuliah saya. Saya punya empat orang terdekat yang saya kenal sejak hari pertama masa orientasi. Sebut saja mereka Yessy, Siti, Iecha dan Pinta.

Masing-masing dari mereka punya cerita yang berbeda.

Seiring berjalannya dengan waktu, Yessy menghilang dari lingkaran kehidupan saya di saat kuliah. Teman yang awalnya saling bergantung di saat memasuki dunia yang baru, cuma bisa mengucapkan ‘hai’ dan ‘halo’ ketika bertemu.

Kemudian Siti yang pergi. Menghilang saat saya sedang berada di tengah keramaian. Saya mencoba mengajak dia ke depan, bergabung dengan semua teman yang baru dikenal. Tapi kenyataannya dia tidak bisa beradaptasi dan begitu saya sadar dia sudah pergi.

Lain lagi dengan cerita Iecha. Kami masih berteman sampai sekarang, tapi bisa dibilang tidak sedekat dulu. Kali ini masalah bukan ada pada lingkungan atau siklus pertemanan tetapi lebih ke cara pandang. Kami, saya dan beberapa teman lainnya, memandang kalo iecha punya cara berpikir yang berbeda, yang sayangnya tidak bisa kami mengerti.

Kentalnya hubungan saya dan iecha serta beberapa teman lainnya sempat menimbulkan banyak pertanyaan dari para senior. ‘kemana Iecha?’, ‘kok gak main lagi sama iecha?’, ‘lagi berantem ya sama Iecha?’

Saya berusaha waktu itu. Berusaha menarik Iecha dan belajar memahami dia. Tapi nyatanya ada beberapa hal yang sudah jauh tertinggal. Ada jarak yang memenggal. Dan kemudian saya sadar kalo Iecha menghilang. Iecha menghindar.

Untuk Pinta lain lagi ceritanya. Di hari pertama sosialisasi jurusan, saya ingat kalo kami berdua sikut-sikutan untuk berebut barisan :D

Tapi sampai sekarang genap tiga tahun, bahkan lebih, saya terus bermain bersama dia.

Pernah disuatu waktu, pinta pergi. Menghilang karena sebuah masalah dan perbedaan pendapat dengan beberapa teman. Dia bersembunyi, tidur tenang di cangkangnya dan kembali mempersempit alamnya.

Lalu saya berpikir. Haruskan saya diam saja? Melihat teman saya berguguran satu persatu. Haruskah tinggal saya sendiri?

Akhirnya saya beranikan diri untuk maju, berbaur dengan alamnya dan menarik dia kembali keluar dari cangkangnya. Saya tidak hanya membawa dia, saya berusaha membawa mereka semua. Dan hasilnya, dia kembali. Gak sendiri, pinta malah membawa teman-teman lainnya masuk ke alam kami. Ya, alam kami, alam saya, alam pinta dan alam teman-teman saya yang lainnya. Alam kami, begitu saya menyebutnya.

Saat itulah saya sadar bahwa saya menyeleksi dan diseleksi.

Kenapa?

Karena menurut saya, seleksi alam terjadi atas kemauan dan kehendak kita. Bukan terjadi tanpa sadar atau dengan sendirinya.

‘Alam’ itu milik kita, pribadi. Tempat kita tinggal dengan nyaman bersama dengan orang-orang yang kita anggap nyaman. Dan seleksi itu terjadi karena diri kita sendiri, diri kita pribadi.

Saya mau berbagi cerita lain. Dulu saya pernah ikut suatu perkumpulan di lingkup besar kampus saya. Dikarenakan suatu hal dan perbedaan pendapat, saya mulai merasa risih dan gak nyaman. Akhirnya saya memilih untuk meninggalkan itu dan bermain di ‘alam’ saya.

See?

Saya memilih sendiri alam saya. Saya memilih dimana saya mau tinggal dan dengan siapa saya ingin tinggal. Dan begitu pula dengan yang lain. Tiap orang punya hak untuk menentukan alamnya.

Setiap orang punya kemauan dengan siapa dia ingin menikmari alamnya. Tapi belum tentu orang yang dimaksud tersebut mau tinggal bersama dengan dia di alamnya.

Di cerita nomor satu sampai dengan tiga (Yessy, Siti dan Iecha), saya melihat adanya penolakan dari diri mereka. Saya berusaha menarik mereka lagi, tapi ternyata saya gak benar-benar berusaha. Hingga akhirnya seleksi (di) alam (saya) pun bekerja. Alam saya tetap ada, tapi tanpa mereka.

Kalo untuk pinta lain lagi ceritanya. Di situ saya berusaha, saya menarik dia sekuat tenaga. Untungnya saya gak sendiri, saya dibantu dengan teman-teman yang lain, yang juga merasa alam mereka gak akan lengkap tanpa kehadiran si gemblong yang satu ini.

Awalnya dia memang memperlihatkan penolakan, tapi keindahan alam kami terlalu sulit untuk ditinggalkan cuma karena sebuah masalah kecil yang sebenarnya gak berguna. Akhirnya dia kembali, dan seperti yang saya bilang tadi, dia gak sendiri. Dia membawa teman lainnya untuk bergabung di alam ini.

Bukan cuma dia, saya dan teman-teman yang lainnya juga berusaha membawa sebanyak mungkin teman kami yang lainnya untuk bergabung di sini, di alam ini.

Masing-masing dari kami juga punya alam sendiri, bukan hanya di sini. Kami punya alam lainnya dengan penghuni yang tentu saja berbeda-beda. Tapi kami, saya khususnya, menikmati alam yang satu ini.

Mungkin sampai di sini kami masih menikmati alam kami. Berusaha agar jangan sampai ada seleksi lagi. Tapi entah apa yang terjadi nanti kami tidak tahu, kami cuma bisa belajar memahami dan berusaha menjaga alam ini.

Karena kami sudah dewasa, mungkin udah bukan waktunya lagi mengandalkan emosi, tapi belajar menganut faham toleransi.

2 comments:

tarydewe said...

Jadi....gw kok gak lo cantumin...

hohohohoho

Katharina said...

ihh, buat apa? elo tuh nasibnya bareng sama gw tar, sampe tua. ntar kan biar kita bisa jadi mamah-mamah gahul di mall-mall gitu :))