Friday, 26 November 2010

Menanti Desember

Saya sadar kalau waktu itu berjalan dengan cepat. Tapi saya tidak tau kalau dia berjalan secepat ini. Saya merasa melesat dalam kapsul waktu dan mendapati bahwa November sedang saya jalani, kini saya menanti Desember lagi.

Desember. Bulan terakhir di setiap tahun. Ya, semua orang tau itu.Yang tidak diketauhi oleh semua orang adalah kenangan saya akan Desember, perasaan saya saat Desember dan keinginan saya setiap Desember.

Banyak yang terjadi tiap Desember, bagi saya. Entah itu hal-hal yang terjadi di hidup saya, teman saya atau bahkan keluarga saya. Tapi Desember yang saya ingat adalah sejak Desember dua tahun yang lalu, Desember yang saya ingat selalu.

Ini cerita tentang teman2 saya. Yang pertama adalah Dolly, yang pernah saya ceritakan di dua judul Desember sebelumnya. Yang ceritanya mungkin akan saya ingat selamanya.

Ya, Desember dua tahun yang lalu dia menemukan cintanya. Cinta yang ’berbeda’ tapi dijalani layaknya cinta biasa. Dua tahun lalu mungkin dia tidak menyangka bahwa dia akan bertahan begitu lama, menjalani cintanya. Di saat orang lainnya menyerah dan berhenti karena merasa sia-sia atau yang terlalu takut untuk menyambut cinta yang ’berbeda’, mungkin itu juga yang terjadi pada saya.

Saya ingat potongan-potongan katern yang sedang kami buat, hujan yang turun lebat, dan matahari yang akan terbenam di barat. Saya ingat percakapan kami, saya, Dolly dan Tari, di tengah kuliah Pak Bardi. Saya ingat senyum yang muncul di wajah Dolly dan saya juga ingat akan mimik iri di wajah Tari dan saya sendiri. Saya ingat saat itu dia bahagia, dan mungkin sekarang juga. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada dia di Desember-desember berikutnya. Yang saya tahu Desember ini, sepertinya, dia akan berbahagia.

Lain lagi cerita tentang teman saya satu ini, Tari.
Desember dua tahun lalu juga, Tari harus berpisah dengan orang yang dicintainya. Meninggalkannya menjalani masa-masa SMA yang bagi Tari hanya sebuah kenangan saja. Tapi Tari berbeda, dia tetap mencintai kenangannya itu. Kenangan tentang seorang yang sampai sekarang tetap di hatinya. Yang meskipun dia telah mencoba dan berusaha mencintai lelaki yang berbeda, namun nyatanya dia kembali kepada orang yang sama.

Tanpa dia sadar, dia telah menciptakan sebuah hubungan tanpa nama. Hubungan yang bukan di sebut pacar, saudara ataupun teman biasa.Menurut saya itu cinta, tapi berbeda. Cintanya itu luar biasa, diberikan oleh hati yang luar biasa untuk mencintai seorang lelaki yang luar biasa. Ya, Tari selalu bilang dia luar biasa, tidak ada tandingannya. Dan Desember ini mungkin Tari akan tetap mencintainya, tapi entah bagaimana dengan Desember-desember berikutnya. Saya akan tetap menantikan cerita dia bersama si lelakinya yang tercinta.

Desember memiliki banyak cerita cinta, begitu juga dengan saya.
Desember dua tahun yang lalu, saya masih menyukai teman SMA saya. Tapi sekarang, saya menyukai orang lain. Orang lain yang sejak dua tahun lalu itu menyingkirkan si teman SMA itu dari hati saya, hingga sekarang. Ya hingga sekarang saya terus menyukai dia.

Dia.
Orang lain yang saya temui beberapa hari setelah sosialisasi jurusan di kampus saya. Orang lain yang duduk bersandar di punggung ketua sosjur angkatan saya, melafalkan namanya yang ditulis dengan ejaan yang salah, yang hingga kini databasenya telah ditandai oleh saya. Dia itu orang lain yang menawarkan es teh di saat maghrib tiba, yang saya yakin saat itu dia tidak tau bahwa saya tidak berpuasa. Dengan wajah yang, dia kira, cool, dia berbaur dengan mahasiswa lainnya dan menyapa setiap orang yang ada. Wajah yang sampai sekarang tidak pernah saya anggap cool, keren atau semacamnya, wajah yang menurut saya adalah hal yang terlucu, terunik dan telah membuat saya jatuh cinta.

Saya tidak percaya bahwa saya akan menyukai dia, si orang lain, sejak hari itu hingga sekarang.

Saya ingat Desember dua tahun lalu, saya menatapnya sambil tersenyum senang. Tatapan kagum dengan binar-binar cemerlang. Kemudian Desember setahun sesudahnya saya tersenyum pada dia, senyuman seorang teman, sambil bertanya dengan cemas apa yang sudah terjadi pada sebelah kakinya hingga dia harus jalan terpincang-pincang. Saya akui, kala itu saya menatapnya dengan kecemasan yang mati-matian saya simpan rapat-rapat dalam hati.

Saya ingat segala kenangan itu, yang saya yakin dia tidak mengingatnya. Karena saya tahu itu kenangan saya, milik saya. Entah apa kenangan dia akan saya, saya tidak tau. Saya bukan tidak mau bertanya, hanya saja saya terlalu takut untuk melakukannya.

Sambil menanti Desember kali ini, saya berpikir, apa yang akan saya katakan bila bertemu dengan dia? Apa saya harus tersenyum seperti biasa? Atau saya harus menunjukkan cinta yang saya punya? Apa saya akan bertemu dengan dia?

Karena dia, saya menanti Desember ini sambil terus bertanya-tanya, entah pada siapa.

Saya juga punya kenangan lain akan desember kala itu.
Desember dua tahun yang lalu saya ingat, bahwa saya baru menapaki dunia perkuliahaan. Dunia yang asing bagi saya, dunia yang harus saya pelajari dan harus saya jalani. Desember dua tahun yang lalu saya hanya punya beberapa teman. Hingga akhirnya saya melesat menuju Desember berikutnya, dimana saya dikelilingi oleh banyak kebahagiaan. Saya punya banyak teman, saya punya banyak kegiatan, saya punya banyak cerita dan saya punya segudang pengalaman.

Hingga akhirnya, sambil menanti Desember ini saya sadar kalau itu semua hilang. Entah karena hal apa, saya tidak tahu alasannya. Jujur saya merasa kehilangan banyak teman, entah karena jalan pikiran yang berbeda, perselisihan semata atau mungkin karena kegoisan kecil saja. Mereka tetap ada, namun rasanya tidak sama. Terlalu banyak pikiran akan yang satu terhadap yang lain, terlalu banyak rahasia yang tercipta dan terlalu banyak rasa tidak percaya.

Sambil menanti Desember saya berpikir lagi, apa yang akan saya lakukan untuk mengatasi hal ini?

Kenangan lagi, Desember kembali. Kali saya berbicara tentang mimpi. Mungkin ini mimpi saya, atau mungkin mimpi anda, atau mungkin juga mimpi kita semua.

Saya berpikir dua tahun yang lalu bahwa saya akan menjadi seorang penulis cerita atau novelis. Dengan modal nekat dan secuil mimpi, saya melanjutkan kuliah, bermimpi saya akan punya banyak buku nanti, karya saya sendiri. Tapi satu tahun yang lalu, mimpi saya bergeser. Entah karena efek perkuliahan dan beberapa kegiatan yang saya ikuti, akhirnya saya bermimpi untuk menjadi seorang jurnalis, pencari berita, wartawan atau entah apalah itu sebutannya. Saya memupuk mimpi itu dan mengembangkannya, merancang semuanya dengan sempurna.

Hingga tiba saat yang tidak di sangka. Entah ada angin apa atau ada alasan dalam diri saya, yang hingga kini belum saya ketahui, merubah semuanya. Impian saya menjadi seorang jurnalis sedang bergoyang, hati saya bimbang. Saya bertanya kepada semua orang, ’apa yang harus saya lakukan? Apa yang harus saya pilih?’ tapi jawaban mereka semua sama, ”terserah kamu, kamu kan yang jalanin.” atau, ’menurut lo, lo lebih di bidang yang mana?’ atau, ’yaudah, ikutin kata hati lo aja.’

TAPI hati saya bingung. Gimana mau jawab?!
Dan saya menanti Desember ini ditemani hati yang bimbang serta berjuta perasaan lain, sedih, kecewa dan senang.

Desember ini adalah akhir. Akhir yang bukan hanya dalam tahun, tapi akhir dari segala penantian saya sejak Desember dua tahun yang lalu. Banyak hal yang harus ditentukan dan dipertaruhkan Desember ini, masa depan, mimpi dan juga berbagai macam keinginan. Saya berharap Desember ini saya akan menemukan jawabannya, yang tepat dan terbaik.

Ternyata Desember terlalu banyak membawa cerita.
Lihat saja sudah sejauh mana tulisan saya. Bahkan dalam postingan blog ini belum saya ceritakan tentang keluarga saya dan cerita-cerita Desember lainnya.Tapi saya masih punya banyak waktu dan masih ada Desember-desember lain yang menanti saya dengan berbagai macam kejadian lainnya.

Entah apa yang akan terjadi nantinya. Yang saya tau pasti setelah Desember pergi, saya akan kembali menanti Desember lagi.

4 comments:

tarydewe said...

I like your post

Katharina said...

yeaah, me tooo :)

Lidya Pawestri Ayuningtyas said...

I'll be missing you and Tarce so much~ *hugs*

Lidya Pawestri Ayuningtyas said...

eh kets tag ke si itu dong, biar si bos ngeh. haha