Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Yang pasti hanya ada aku dan mereka di sini.
Seorang Wanita yang sedang menangis tanpa suara, seorang Pemuda dengan pandangan mata penuh kecewa, seorang Lelaki rupawan dengan ego tinggi di wajahnya dan seorang Pria, yang mungkin sebenarnya tidak mengerti apa-apa.
Aku memandangi mereka satu persatu. Segumpal cairan bening mulai memenuhi kelopak mataku. Kenapa aku di sini?
Sang Wanita bangkit berdiri dan menamparku. PLAAKK!
Sekelebat memori menari di kepalaku.
Aku mencintainya. Sangat mencintainya hingga aku tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Tentang perasaanku dan kenyataan yang ada. Aku ingin menjaganya, tidak ingin menyakiti hatinya. Aku hanya ingin dia bahagia. Maka aku selalu berkata “YA”.
Kemudian sang Wanita mundur beberapa langkah dan menghampiri sang Pemuda. Dengan wajah penuh luka dia hanya bisa menggelengkan kepala, membuat sang Wanita semakin merasa tersiksa. Seketika aku dapat membaca hati yang terluka, inikah derita mencinta?
Sekelebat memori menari di kepalaku.
Aku juga mencintainya. Sangat mencintainya hingga aku tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Tentang kenyataan yang ada. Aku ingin menjaganya, tidak ingin menyakiti hatinya. Aku hanya ingin dia bahagia. Maka aku selalu berkata “YA”.
Tangis sang Wanita mulai membahana.
Rasanya ingin ku iris kedua telinga agar tak perlu lagi aku mendengarnya.
Aku menghampirinya. Dia mengangkat kepala. Menatap dengan penuh hina.
Seketika juga dia menggila. Memukul ku dengan membabi buta.
Entah dari mana tenaga sebesar itu di dapatkannya.
Yang pasti seluruh tubuhku terasa ngilu dan akan meninggalkan bekas-bekas biru.
Sang Pria kemudian berlari. Menarik sang wanita pergi. Menghentikan segala aksi dan akhirnya terdiam lagi.
Sang Pria memeluknya, memeluk tubuh yang bergetar karena tangis yang tak lagi lagi wajar. Suaranya sedikit teredam di dalam sebidang dada yang tentram.
Aku ingin menangis. Tapi aku tidak bisa. Tubuhku terasa teriris. Tapi aku yakin aku dapat menahannya.
Sebentar lagi, hanya sebentar lagi dan segalanya akan berakhir.
Kemudian ku alihkan mata. Kupandang sang Lelaki yang sedari tadi menatapku. Dulu aku selalu melihat binar indah di sana tapi kini hanya ada sebuah kata yang terukir jelas di kedua matanya, ‘PENIPU’.
Sang Lelaki mengangkat angkuh dagunya. Enggan menatap kemana-mana. Mata elangnya menusukku dan semakin menambah luka. Segala caci maki terucap dalam diam mengiringi hati yang semakin remuk redam.
Aku tidak kuat. Tolong Hentikan!!
Tiba-tiba aku melihat senyum di wajahnya. Senyum pahit penuh cinta yang terhapus kecewa.
Sekelebat memori menari di kepalaku.
Aku juga mencintainya. Sangat mencintainya hingga aku tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Tentang kenyataan yang ada. Aku ingin menjaganya, tidak ingin menyakiti hatinya, hati sang Wanita dan hati sang Pemuda. Aku hanya ingin mereka bahagia. Maka aku selalu berkata “YA”.
Aku ingin menjerit! Menangis sepuasnya! Mereka juga harus tahu, aku hanya MANUSIA!! Aku bukan DEWA!!
Dan kali in sang Pria yang menatapku. Dengan pandangan penuh tanya yang haus akan jawaban atas segalanya.
Sementara satu tangannya terus mendekap, tangannya yang lain terulur ke arahku, meminta penjelasan agar semua tabir tersingkap.
Apa yang harus aku berikan? Apa yang harus aku katakan?
Apa yang harus aku lakukan???
Kemudian aku mengambil tangannya dan menangis di sana. Segala luka kutumpahkan, semua sakit kusampaikan dan seluruh cerita aku berikan. Kedalam genggaman tangannya.
Biar dia yang merangkai semua cerita, aku terlalu letih jika harus berbicara. Dan bila dia mengerti nanti pasti aku sudah jauh pergi. Meninggalkannya sendiri.
Kenapa baru sekarang kau ulurkan tanganmu?
Pertanyaan itu memenuhi otakku. Membuat segalanya kembali membelenggu. Mengikat memori menjadi satu dan menghantarkan sejuta pilu.
Apa aku yang terlalu dungu?
Jika sejak dulu kau lakukan itu, aku tidak akan menangis di hadapanmu.
Dan semua ini tidak akan terjadi!
Tidak akan ada hati yang tersakiti. Tidak akan ada hati yang terkhianati. Tidak akan ada hati yang dibohongi. Tidak akan ada hati yang tak mengerti. Dan tidak akan ada hati yang perlu menanggung semua ini.
Dan kau tersenyum kepadaku. Senyum yang selama ini selalu ku tunggu.
Sekelebat memori menari di kepalaku.
Aku mencintainya. Sangat mencintainya hingga aku tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Tentang kenyataan yang ada, tentang perasaanku padanya. Aku selalu ingin bersamanya hingga bibir ini tak berani berkata apa-apa. Aku hanya ingin bahagia, bersama dengannya.
**
Aku terbangun dan menatap sinar mentari. Lantas bersyukur akan datangnya pagi. Sebuah doa kecil terselip di dalam hati, bila aku tertidur nanti aku mohon jangan biarkan mimpi itu datang lagi.
***
No comments:
Post a Comment